Archive for the ‘chairil anwar’ Category
puisi khayalan
Wednesday, March 3, 2010 1:22 No Commentsmengawang antara yang ada
sepi kembali disini.
ingin aku berlari
mengejar angan yang terbang
membeli mimpi yang terjual
membunuh asa yang pecah
aku adalah aku.
bahagian dari arti hidupku
mimpi
cita
rasa
angan,
semuanya menyatu dengan nafas yang kaku.
bisu.
menderu……
derai derai cemara- chairil anwar
Friday, October 16, 2009 21:39 No Commentscemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
(1949)
yang terhempas dan terputus – chairil anwar
Friday, October 16, 2009 21:38 No Commentskelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa [...]
malam di pegunungan – chairil anwar
Friday, October 16, 2009 21:37 No CommentsAku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
(1947)
cintaku jauh di pulau – chairil anwar
Friday, October 16, 2009 21:35 No CommentsCintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum [...]