Kotaku
“kotaku”
jauh mengharu dari yang dulu
tanpa satu ada yang menahu
tersimpan kisah satu kejayaan
pada cerita kebesaran sultan
hidup dengan segala kecakapannya
terkenal hingga seluruh pelosok
bukan karna rupa atau harta
tapi laku penguasa yang elok
hingga sekarang sangat disayang
kotaku penuh orang yang mengerang
disana merintih, disini menjerit
sebab laku penguasa buncit
hilang sultan berganti setan
mengumpul harta hingga karatan
ambil dalih sebagai malaikat
tau dibelakang siap menjerat
Medan, malam des \’08
email: ini_poetra@yahoo.com
nomor HP/telpon: 085262604872
alamat friendster: poetra_doank88@yahoo.com
This post was submitted by MH Poetra.
“Mendung Tak Berarti Hujan”
Aku Percaya….,
Mendung Tak Berarti Hujan….
Membeku Tak Berarti Membatu…
Meski Basah Ditetesi Air, Tak Berarti Kedinginan….
Percaya Atau Tidak,
Semua Selalu Tak Terduga….
Penuh Misteri…
Seperti Awan Hitam Yang Tak Kunjung Menghempaskan Tetesan Air nya Ke Bumi…
Layaknya Kesedihan Ini..
Yang Tak Pernah Di Ungkapkan…
Dan Setiap Saat Bisa Berubah Menjadi Bahagia…
Disaat kau disini…
Karena rasaku Masih Mengharap Mu Disini….
Dear My-Love_life…..
Cinta itu . . .
CiNta haDir pAda seTiAp diri sAnG hiDup
sebaGai saLah sAtu aNugRah tErbEsaR daLam hiDup
yAng kAn mEmbAwaMu tErbAng kE diMensi Lain,,
diMensi LayAknYa sUrga diManA
hAnYa aDa ciNta, kEinDahAn dAn
sEjuTa kEbaiKan dAri_NyA yAng aKan MeMBeriKan kEseJukAn
seKaLipUn di pAdanG tAndUs,,
nAmuN,sEinDah daN sePuTihNya ciNta iTu,,
sUaTu sAat iA biSa mEnjELma mEnjAdi
sEsuAtu yAng bUrUk dAn hiTam,,
bAhkAn LebiH kelAM DaRI MAlAM yAng keLam,,
yAng aKan mEmbAwaMu kEpaDa kEterpUruKan, kEbenciAn dAn seGaLa
rAsa yAng mEmbuAt KitA LuPa
aKan aRti dAn tUjUan hiDup yAng sEbeNarNyA,,
YaNg aKan mEmbAwaMu ke rUang LaYakNya nErAka dEnGan seGaLa bEnTuk kEpEdiHannYa,,
email: afrie_lordofluph@yahoo.co.id
nomor HP/telpon: 6285227937658
alamat friendster: afrie_lordofluph@yahoo.co.id
TATANAN PEMERINTAH
TATANAN PEMERINTAH
(khusus utk. Om Admin)
Kubujuk cinta . . . rembulan gurindam terdiam.
Kurajuk cinta . . . mencari sekuntum pualam.
Tumbuh cahaya - binar - aroma - dan - dan
- dan - dan - wanginya!
Tabuh hatiku - dadaku - betisku - dan - seru!
Bait - baitan pesta pora . . .
Pantun - pantunan hura - hura . . .
Aisya terduduk
- dibawah pohon rindang aroma solek
Aisya tersentak
- dibuai dendang
Ranting dan rumput bergoyang molek
Aisya dan sanusi bertalu gendang.
Sanusi lelah
- dia berdasi kebagusan betis padi
Sanusi peluh
- dipeluk aisya
Warna - warni aisya meminta puisi
Swarna - swarni aisya karang asmara.
Apalah daya, rayuan tiada
. . . ide tatanan pemerintah.
hendra “29 Nov 2008″
email: hmahadera@yahoo.com
Sajak Buatmu, Para Malam….
Kepada Para Malam,
Renungkanlah ukiran-ukiran kata ini. Agar malammu dipenuhi hiasan malam. Dan takkan habis dingengat waktu.
Banjir kata yang biasa kini kian meluas. Setelah para malam, meneteskan kata. Satu per satu. Entah mengapa tak bosan-bosannya. Mereka mengais kata di tengah kebuntuan. Mencecapkan kata-kata biasa. Dengan nada-nada biasa pula. Apakah mereka tidak haus kata? Padahal, jutaaan kata menunggu untuk digenggam lantas dipasang di antara dinding-dinding kata. Apakah mereka masih punya hati, bila kata tak dinanti? Ya, mungkin saja mereka belum mengerti. Kalau kata-kata masih tertempel di pondok para malam yang berkabut. Dan menunggu untuk dijemput.
With love, peace and a little smile, email: ganziarah@yahoo.co.id
pujangga pelangi malam, anak sang waktu.
20081121/SMG
Sajak Adek
Adik kecil terhuyung-huyung mengambil sepeda kecilnya. Pergi sendiri menghampiri pagi. Menerawang langit supaya nanti selamat dari terjangan hujan. Adik kecil ngebut di pinggir kali. Sambil mengencangkan kayuhannya lagi. Adik kecil pergi tak kembali. Menjemput pagi tak berembun. Menerobos relung-relung pagi yang tak kunjung henti.
SMG/20081124
email: ganziarah@yahoo.co.id

