HASRAT
Dan ku tlah resah memendam, sekian lama. Terdampar dalam kebekuan hati.
Sekian lama tak bisa bangkit. Tersesat dlm angan tanpa dasar.
Terlalu lama jadi ”BUTA DAN TERTIDUR“
Kerinduan
Berita kerinduan
Pagi ini kuhabiskan secangkir hangat kerinduan,
sambil membaca koran tentang berita kemaren sore,
“…seorang lelaki merakit harap dengan potongan-potongan rindu hingga menjadi sebuah istana megah bernama Tajmahal Cinta…”
diakhir berita,
“…saat ini lelaki itu tengah berupaya menyulam rindu menjadi bulan, agar malam tak sepi tanpa kekasih..”
cinta
CAKAPLAH MESKI SEJENAK
ran, semalam jiwaku mengembara
menemuimu meski hanya sebentar saja
saat itu aku bawakan kejujuran padamu
dan kulihat sebuah senyum tersungging dibibirmu
hingga kulihat jelas sepasang lesung pipitmu ,menjelma ngarai
diantara gunung-gunung dan pepohonan
ran, cakaplah denganku walau sejenak
agar kutahu hatimu’lah menyimpan sajak-sajakku
membayangmu adalah bait puisi yang tak kan pernah habis
Banyuwangi, 28 Nopember 2008
MAKNAILAH SAJAKKU
sempat terfikir olehku ran, mengajakmu berjalan-jalan
mengarungi setiap sudut mimpi malam-malam panjang
dan kita lukis sebuah garis yang penuh warna
menggurat tegak lurus diatas kanvas
gambaran catatan perjalanan kita
kau tahu ran, kuingin kita selalu bersama
mengeja waktu diiringi nyanyian jengkrik dimalam buta
tapi entahlah ran, acapkali keraguan menggugurkan mimpi-mimpiku
atau larutkan asa dalam desah nafas kita
padahal inginku adalah nyata yang hadir disetiap lamunan
bukan hanya sebuah mimpi yang hilang saat pagi ‘lah datang
jika sempat kau baca ran, tolong maknai sajakku
agar puisiku tak lagi sia
Banyuwangi, 1 Desember 2008
SURAT KEPADA RAN 1
pagi ran, mungkin saja baru pagi ini sempat kau baca suara kalbu ini
sebab semalam engkau tidur dengan pulas sekali
setelah seharian bergulat dengan gemerlap pijar lampu yang menyilaukan
ran aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa peracakapan kita
di perlehatan sakral itu penuh makna bagiku
meski kau hanya ucap sepintas lalu
ucapmu adalah anugerh bagiku
tapi tahukah kau ran saat itu hatiku laksana terhempas gletser
dingin sedingin beku
sejuk sesejuk embun yang jatuh didedaunan
ran , adakah bahasa yang sanggup ungkap bahagia ini
saat kutahu kau baca setiap sajak
yang kukirim padamu disetiap titik dua belas
dan yakinlah ran, aku pasti datang padamu bukan hanya sajak
seperti janjiku padamu saat itu
tak lupa kubawa serta segala kejujuran yang pernah kumiliki
itupun jika ada sepatah kata kepastian darimu
ran, dibawah kegamangan dan keraguan mungkin
aku menggigil diam seribu bahasa
tersiksa waktu yang tersenyum beku disudut sunyi.
Banyuwangi,. 02 Desember 2008
SURAT KEPADA RAN 2
seperti biasanya ran, malam inipun aku asyik sekali mengeja kata
meski sebenarnya seluruh tubuhku serasa penat
tapi entahlah ran, mata hati ini masih mengajakku mengembara
menyusuri jalan-jalan setapak sepi kedalaman sunyi
dan tiap langkah kaki adalah nyanyian sepi
yang melantun lirih diatas kerikil beku
dingin ran, malam ini dingin sekali
kucoba menyelimuti diri dengan sepenggal sajak tentang kepahlawanan
yang sempat kubaca dari sebuah koran sore tadi
namun dingin ini masih menghinggapiku
dan tiba-tiba saja fikiranku terpaku pada zodiak yang terpampang di pojok halaman
taurus asmara minggu ini dia sedang tidak enak hati bla bla bla
kuda asmara bulan ini sedang baik dia masih ragu bla bla bla
ah, tidak mengenakkan sekali zodiakku kali ini
untung saja aku tak sedikitpun mempercayainya
oh ya ran, aku lupa mengatakannya padamu
bahwa tadi siang aku sempat melukis sketsa wajahmu
meski hanya sebuah sketsa hitam putih
namun tergurat jelas didinding hatiku
sebuah namamu terukir dibawahnya dengan huruf penuh cinta
bukankah kautahu ran, aku tak bisa lepas dari bayangmu.
ran, dikejauhan lonceng berdentang tiga kali
memaksaku lelap sejenak
kuatkan diri untuk esok pagi
agar kita bisa bertemu cakap tanpa rasa kantuk
Banyuwangi, 03 Desember 2008
KangeN
Aku kangen,…
Tapi ikatan luka yg membelenggu hati dgn simpul mati ketakberdayaan,
Memaksaku untuk menjadi munafiq
Dan menelan rasa ini sendirian.
Aku kangen,…
Berada dalam dekapan cintamu
Yang membawaku pada permainan abu-abu
Dimana hitam dan putih tersamarkan rata.
Aku kangen,…
Pada hati yang telah menghancurkan hatiku.
Dak, 06.08
Di tengah-tengah
Aku mencinta mu
dikala lebih dari waktunya aku berada dirumah perdanaku
menjadi bagian yang mungkin kau anggap segalanya dalam dunia
menjadi terindah walau kutau penuh dengan penderitaan batin yang menerpa
aku mencinta mu
dikala pilar-pilar kesetiaan mulai remuk
menggantikan harapan untuk menyundut masa depan
yang terukir disuatu peristiwa menanam kisah
ketika api berkorban menyelimuti
air’kah yang harus kujelma menghapus yang ada?
seperti saat ini menyimpan dusta
bagi yang kucinta…berdua
a mengatakan dengan kejujuran
b pun membisikkan atas nama kejujuran
aku ditengah sakit luar biasa
rasa mati terus ingin datang kala ini melengkapi hariku
terkadang aku benci berdua
melanda kebahagiaan yang terkolaborasi dengan harapan
menerbangkan segala sayatan tanpa pilu bidikan
aku sungguh benci
mediasi menjadi pilihan namun bodoh luar biasa
aku tak bisa berkata dan membuang kejujuran untuk ini semua
merangkai topeng-topeng yang tak bisa dilihat tiap waktu
mengukirnya atau menyembunyikan
aku tersandung batu berongak mulai besar
kerikil-kerikil itu dapat kuinjak tempo hari
aku harus melanjutkan dengan kemunafikan
karena telah kubuat topeng bersimpul senyum manisku
dikala ingin tau, hati ini perih tak bisa terangkai
menabuh genderang ingin melarikan diri ke puncak alam
membiarkan angin ganas membunuhku perlahan
tak ada saksi,,,tak ada mereka
menjadi…menyakitkan aku yang ketiga!!!!
